pendekatan moral dalam pengkajian sastra

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.                Latar Belakang Masalah

Salah satu tujuan penyelenggaraan pendidikan adalah untuk membentuk sikap, moral, dan watak murid yang berbudi luhur. Dahulu para murid diberikan pelajaran Budi Pekerti untuk mencapai tujuan tersebut. Namun sekarang pelajaran itu telah ditiadakan karena pelajaran tersebut mungkin tidak banyak merubah kepribadian murid menjadi kepribadian yang lebih baik dan bermoral.

Indonesiamemiliki Pancasila dan nilai-nilai budaya yang luhur dan menjunjung tinggi kerukunan dan tenggangrasa. Akan tetapi, di pihak lain Indonesiajuga merupakan salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia, dan tingkat kerusuhan yang juga tinggi. Bangsa lain memandang Indonesiamenjadi negara yang tidak lagi aman untuk dikunjungi sehingga Indonesiapernah menjadi negara yang dilarang untuk dikunjungi oleh salah satu negara besar di dunia. Negara tersebut mengeluarkan travel warning bagi warga negaranya yang akan berkunjung keIndonesia.

Salah satu cara membentuk watak dan pribadi bangsa ialah dengan melalui

pendidikan. Jika demikian, bisa dikatakan bahwa ada yang kurang tepat dengan pendidikanIndonesiasehingga sebagian bangsanya menjadi bangsa yang anarkis dan korup. Selain pengajaran agama, salah satu pelajaran yang mengajarkan budi pekerti ialah sastra.

Sastra menurut etimologinya adalah tulisan. Sedangkan kesusastraan adalah segala tulisan yang indah. Sastra dalam pemahaman saya, adalah segala bentuk ekspresi dengan memakai bahasa sebagai basisnya….Bukan hanya apa yang tertulis, apa yang tidak tertulis pun bisa masuk dalam sastra. Tidak hanya yang indah, catatan-catatan, surat-surat, renungan, beritaberita, apalagi cerita dan puisi, anekdot, graffiti, bahkan pidato, doa dan pernyataan-pernyataan, apabila semuanya mengandung ekspresi, itu adalah sastra. Wijaya (2007)

Sarjono (1998) mengatakan bahwa sastra dalam banyak hal memberi peluang kepada pembaca untuk mengalami posisi orang lain, sebuah kegiatan berempati kepada nasib dan situasi manusia lain. Membaca sastra berarti mengenal berbagai karakter yang sebagian besar merupakan refleksi dari realitas kehidupan. Dengan demikian, pembaca akan memahami motif yang dilakukan setiap karakter baik yang protagonis maupun yang antagonis sehingga pembaca dapat memahami alasan pelaku dalam setiap perbuatannya. Bahkan jika karakter tersebut adalah karakter yang tidak ingin dijumpai oleh pembaca dalam kehidupan nyata karena kejahatannya, maka dalam fiksi pembaca akan bertemu berbagai karakter sehingga pembaca mampu memahami motif dan tujuan mereka tanpa resiko yang membahayakan pembaca.

Demikian pentingnya pengajaran sastra untuk membentuk moral yang berbudi mulia maka Putu Wijaya menyatakan bahwa sastra harus dibelajarkan kepada semua jurusan, karena tanpa menguasai sastra, tata bahasa hanya akan menjadi alat menyambung pikiran/logika dan bukan menyambung rasa (2007).

 

  1. B.                 Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas maka dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :

a)      Bagaimana cara melakukan pendekatan moral dengan sastra

b)      Bagaimana cara melakukan pendidikan karakter

c)      Bagaimana seharusnya sastra diajarkan

d)     Apa manfaat dari pembelajaran sastra bagi jati diri bangsa

 

  1. C.                Tujuan Penulisan

Dalam penyusunan makalah tentang pendidikan budi pekerti melalui pendekatan moral dalam pengajaran sastra memiliki maksud yaitu :

1)      Mengetahui cara melakukan pendekatan moral dengan sastra

2)      Mengetahui cara pendidikan karakter

3)      Mengetahui seharusnya sastra diajarkan

4)      Mengetahui manfaat dari pembelajaran sastra bagi jati diri bangsa

 

 

  1. D.                Manfaat Penulisan

Penyusunan makalah ini semata-mata tidak hanya untuk memenuhi tugas, tetapi diharap dapat memberikan manfaat secara teoritis dan secara praktis bagi pembaca dan bagi penulis. Secara teoritis makalah memiliki manfaat supaya pembaca dapat mengetahui bagaimana sastra ternyata dapat berpengaruh pada karakter, budi pekerti, dan moral pembaca apabila dipelajari dengan metode dan cara yang benar. Sehingga pengembangan sastra akan lebih ditingkatkan untuk mendidik dalam pembentukan jati diri dan karakter bangsa. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi:

1)      Penulis, sebagai wahana penambahan pengetahuan dan konsep dalam pengaruh karya sastra terhadap aspek karakter diri.

2)      Pembaca, sebagai media informasi tentang cara pendidikan moral melalui pendekatan pengjaran sastra

 

  1. E.                 Sistematika Penulisan

Makalah ini disusun menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode diskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan komperhensif. Data teori dalam makalah ini diperoleh dengan studi pustaka, artimya pengumpulan data-data dilakukan dengan mencari sumber-sumber literatur yang relevan dengan tema makalah. Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui kegiatan mengeksposisikan data serta mengaplikasikan dengan tema makalah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  1. A.                Definisi Sastra

Sebelum lebih lanjut mendiskripsikan tentang moral dalam pengajaran sastra, perlu dijelaskan tentang apa sastra itu. Hal ini dimaksudkan agar pembaca lebih memahami apa yang akan dibicarakan dalam tulisan ini. Dengan demikian, pembaca diharapkan mampu melakukan suatu proses penjelajahan yang meningkatkan bukan

saja kepekaan dan pemahaman tentang karya satra, tetapi juga rasa sayang setelah mengenal apa itu sastra. Danziger dan Johnson (dalam Budianta, 2006:7) melihat sastra sebagai suatu seni bahasa , yakni cabang seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Tidak seperti seni musik dan lukis yang tidak menggunakan media bahasa, maka keberadaan arti sastra juga ditentukan oleh perkembangan bahasa. Lunturnya bahasa dengan sendirinya juga mempengaruhi nasib karya sastra. Karya-karya sastra kuno seperti Odysey, Mahabarata, dan sebagainya sudah tidak lagi hidup sebagai sastra, akan tetapi sebagai filsafat (Darma, 1984:51-52).

Selain bahasa, pengertian sastra bisa dilihat dari sudut lain seperti yang dikemukakan oleh Wellek danWarren(1995:3) yang berpendapat bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. J. Bronowski (dalam Darma, 1984:50) berpendapat bahwa pencapaian manusia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu creation , invention dan discovery . Creation atau kreatifitas adalah pencapaian dalam dunia seni, invention dan discovery dalam dunia ilmu pengetahuan. Di antara ketiga pencapaian ini, yang paling murni adalah kreatifitas. Benua Amerika bisa saja ditemukan oleh orang lain jika pada waktu ituColumbustidak menemukannya. Mesin uap bisa juga ditemukan pada waktu yang berbeda dan penemu pertama yang bukan Thomas Alfa Edison jika saat ituEdisontidak bisa membaca fenomena yang ada. Akan tetapi, Hamlet akan selalu menjadi milik Shakespeare dan tidak akan pernah sama dengan Hamlet yang mungkin ditulis oleh orang lain.

Dengan demikian, sastra merupakan suatu ciptaan dari proses kreatifitas dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Sastra bersifat unik dan murni karena tiap individu mempunyai style yang berbeda dalam menuangkan ceritanya. Keberlangsungan suatu karya sastra juga ditentukan oleh perkembangan bahasa dimana sastra bisa saja menjadi bentuk lain seperti menjadi filsafat.

 

  1. B.                 Pendekatan Moral

Sastra harus mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan manusia. Karya sastra amat penting bagi kehidupan rohani manusia. Oleh karena sastra adalah karya seni yang bertulangpunggung pada cerita, maka mau tidak mau karya sastra dapat membawa

pesan atau imbauan kepada pembaca (Djojosuroto, 2006:80).

Pesan ini dinamakan moral atau amanat . Dengan demikian, sastra dianggap sebagai sarana pendidikan moral (Darma, 1984:47). Moral sendiri diartikan sebagai suatu norma, suatu konsep tentang kehidupan yang dijunjung tinggi oleh sebagian besar masyarakat tertentu (Semi, 1993:49). Namun kepentingan moral dalam sastra sering tidak sejalan dengan usaha untuk menciptakan keindahan dalam karya sastra (Darma, 1984:54). Pengalaman mental yang disampaikan pengarang belum tentu sejalan dengan kepentingan moral. Menurut Djojosuroto (2006:81), meski moral yang disampaikan pengarang dalam karya sastra biasanya selalu menampilkan pengertian yang baik, tetapi jika terdapat tokoh-tokoh yang mempunyai sikap dan tingkah laku yang kurang terpuji atau tokoh antagonis, tidak berarti tingkah laku yang kita ambil harus seperti tokoh tersebut.

Berdasarkan pendapat para ahli maka dapat disimpulkan bahwa aspek moral adalah ukuran yang digunakan untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik buruknya berdasarkan pandangan hidup masyarakat. Nilai-nilai moralis yang tercantum dalam karya sastra dapat berbentuk tingkah laku yang sesuai dengan kesusilaan, budi pekerti, dan juga akhlak.

Dalam hubungannya dengan pengajaran, maka dapat dikatakan bahwa pendekatan moral adalah seperangkat asumsi yang paling berkaitan tentang sastra dalam hubungannya dengan nilai-nilai moral dan pengajarannya.

 

  1. C.                Pengajaran Sastra

Mengajar berarti menyampaikan atau menularkan (Riberu, 1991:1). Pengajaran sastra berarti adanya penyampaian atau penularan ilmu mengenai suatu ciptaan dari proses kreatifitas dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Ciptaan tersebut bisa berupa puisi, prosa maupun drama.

Pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu (1) membantu ketrampilan berbahasa, (2) meningkatkan pengetahuan budaya, (3) mengembangkan cipta, rasa, dan karsa, serta (4) menunjang pembentukan watak Rahmanto, dalam Dharmojo (2007).

Pendapat Rahmanto senada dengan pendapat Djojosuroto yang mengungkapkan bahwa sastra dalam pengajaran dapat membantu pengajaran kebahasaan karena sastra dapat meningkatkan ketrampilan dalam berbahasa. Sastra dapat membantu pendidikan secara utuh karena sastra dapat meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta, rasa dan karsa, menunjang pembentukan watak, mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, pengetahuan-pengetahuan lain dan teknologi (2006:85).

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.                Hasil

Banyak sekali pada masa ini tingkat kehancuran karakter bangsa. Bisa dilihat  dari berbagai hal yang terjadi seperti anarkisme, pergaulan para generasi bangsa yang sudah tidak terkondisikan lagi, banyak sekali penggunaan barang-barang terlarang, perangkat keamanan yang tidak jelas seperti mengenai para terpidana yang menikmati fasilitas khusus di tahanan, dan masih banyak lagi.

Bila dilihat dari awal memang pendidikan karakter bangsa ini dari mulai pendidikan sekolah dasar sampai universitas masih dibebankan pada pendidikan agama. Padahal selain dengan pendidikan agama karakter bangsa dapat dibentuk dengan melalui  pendekatan pengajaran sastra.  Tapi sayangnya pengajaran bahasa/sastra di Indonesia menggunakan sistem yang salah, yaitu menggunakan sistem yang sama dengan sistem  pengajaran pada mata pelajaran eksak ( taufiq ismail : 2010, seminar nasional GBSI ).

Padahal sastra menurut Sarjono (1998), bahwa sastra dalam banyak hal memberi peluang kepada pembaca untuk mengalami posisi orang lain, sebuah kegiatan berempati kepada nasib dan situasi manusia lain. Membaca sastra berarti mengenal berbagai karakter yang sebagian besar merupakan refleksi dari realitas kehidupan. Dengan demikian, pembaca akan memahami motif yang dilakukan setiap karakter baik yang protagonis maupun yang antagonis sehingga pembaca dapat memahami alasan pelaku dalam setiap perbuatannya. Bahkan jika karakter tersebut adalah karakter yang tidak ingin dijumpai oleh pembaca dalam kehidupan nyata karena kejahatannya, maka dalam fiksi pembaca akan bertemu berbagai karakter sehingga pembaca mampu memahami motif dan tujuan mereka tanpa resiko yang membahayakan pembaca.

Dalam pengajaran sastra memiliki nilai lebih tersendiri yaitu menurut pendapat Djojosuroto yang mengungkapkan bahwa sastra dalam pengajaran dapat membantu pengajaran kebahasaan karena sastra dapat meningkatkan ketrampilan dalam berbahasa. Sastra dapat membantu pendidikan secara utuh karena sastra dapat meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta, rasa dan karsa, menunjang pembentukan watak, mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, pengetahuan-pengetahuan lain dan teknologi (2006:85).

 

  1. B.                 Pembahasan

Banyak sekali aspek-aspek dalam karya sastra yang dapat digunakan dalam pendidikan moral, seperti contoh dapat diperhatikan dalam cerpen god sees the truth, but waits.

God Sees the Truth, but Waits menarasikan tentang seorang saudagar muda yang kaya raya, tampan dan baik hati dan gemar menyanyi yang bernama Ivan Dmitrich atau yang biasa disapa dengan Aksenov. Sebelum menikah Aksenov adalah seorang pecandu minuman dan pemarah, namun semuanya berbeda ketika dia telah menikah. Suatu hari Aksenov mengatakan pada istrinya kalau dia akan bepergian untuk keperluan bisnis, namun istrinya melarangnya pergi hari itu karena istrinya bermimpi bahwa suaminya kembali darikota dengan rambutnya yang sudah menjadi uban. Aksenov hanya tertawa mendengar kepercayaan istrinya tentang tafsir mimpi sehingga ia tetap melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan, Aksenov berkenalan dengan saudagar yang lain dan

kemudian mereka memutuskan untuk tinggal dalam satu kamar di suatu penginapan. Aksenov tidak biasa tidur sore, namun hari itu ia harus melakukannya karena ia berencana untuk melanjutkan perjalanan pada subuh keesokan harinya.

Semua berjalan seperti semula, Aksenov melanjutkan perjalanan ketika hari masih gelap. Di tengah perjalanan ia istirahat, dan pada saat itu ia didatangi oleh polisi yang menanyakan tentang semua yang telah dilakukan Aksenov. Setelah menjawab semua dengan jujur dan ramah, barulah Aksenov tahu bahwa temannya yang sekamar dengannya telah digorok lehernya hingga meninggal. Setelah diperiksa, ternyata pisau pelaku kejahatan ada dalam tas Aksenov.

Istrinya sangat terpukul mendengar penangkapan suaminya. Saat menjenguk Aksenov, dia merasa sangat sedih melihat istri dan anak-anaknya yang masih sangat kecil, bahkan yang satu masih menetek ibunya. Pertemuan itu semakin menambah kesedihan ketika petisinya ditolak oleh kaisar, terlebih ketika istrinya meragukan apakah benar suaminya tidak bersalah. Putus asa dengan bantuan dan empati manusia, Aksenov hanya berharap pada bantuan Tuhan. Aksenov dihukum selama 26 tahun atas kejahatan yang tak pernah dilakukannya, selama itu pula ia hidup sebagai kriminal diSiberia.

Di penjara, Aksenov membuat sepatu boot, rajin berdoa dan membaca buku-buku,dan bernyanyi di gereja pada hari Minggu.Parasipir dan kriminal lainnya menyukai Aksenov karena kelembutannya. Mereka menyebutnya Bapa atau Orang Suci . Dia sering dimintai pendapat bila terjadi perselisihan yang tak terselesaikan.

Suatu hari datanglah segerombolan penghuni tahanan baru. Salah satunya berusia 60 dan berasal darikotayang sama dengan Aksenov. Makar Semenich-nama penghuni baru tersebut-ternyata adalah pembunuh saudagar teman Aksenov dulu. Suatu hari Makar berniat kabur dengan membuat lubang bawah tanah dan secara tidak sengaja Aksenov memergokinya. Makar mengancam akan membunuhnya kalau dia bercerita. Lubang tersebut akhirnya diketahui penjaga dan para tahanan diinterogasi, namun tak satupun yang mengaku.

Akhirnya para penjaga bertanya pada Aksenov yang jujur dan bijaksana. Ditengah kegundahan, dendam dan benci yang sangat pada Makar, Aksenov memutuskan untuk menjawab bahwa bukan kehendak Tuhan bagi Aksenov untuk menjawab pertanyaan tersebut. Walaupun didesak, Aksenov tetap tidak mengatakannya.

Hal ini membuat Makar sangat terenyuh. Dia memohon maaf pada Aksenov malam harinya. Makar berjanji akan mengakui semuanya, namun bagi Aksenov semua tidak ada gunanya karena istrinya telah meninggal dan anak-anaknya melupakannya. Makar semakin sedih dan kembali minta maaf sampai tersedu-sedu sehingga membuat Aksenov juga menangis. Pada saat itu dia mengatakan bahwa Tuhan memaafkan Makar. Perasaan lega dan hilangnya keinginan untuk pulang merupakan akhir yang membebaskan beban Aksenov karena dia hanya berharap akan datangnya kematian. Keinginannya terwujud tepat pada saat dia hendak dibebaskan setelah pengakuan Makar.

Setelah membaca suatu karya sastra pembaca bisa merasakan tahap katarsis. Catharsis merupakan pembersihan diri setelah menyaksikan atau membaca kisah kisah yang tragis. Setelah membaca pengalaman pahit, tragis, bahkan berdarah yang dialami oleh karakter hingga karakter tersebut dapat melaluinya dengan beragam cara maka pembaca akan mencapai suatu bentuk kelegaan atau katarsis. Lega setelah mengetahui bahwa penjahat akhirnya dihukum, lega setelah menyaksikan bahwa pahlawan dapat menang. Namun tidak semua cerita selalu berakhir dengan kemenangan putih atas hitam, seperti halnya dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, untuk mencapai katarsis, pembaca memerlukan tahap sadisme yang dialami tokoh cerita sebelum akhirnya semua masalah terselesaikan.

Katarsis yang dirasakan oleh pembaca atas pengakuan Makar serasa tertahan dengan tibanya ujung usia Askenov yang tidak memungkinkannya untuk merajut kembali kebahagiaan yang seharusnya bisa diraihnya atas kebebasannya. Dalam hal ini Leo Tolstoy membuktikan bahwa karya sastra yang bermutu bukan hanya sastra yang happy ending dimana kejahatan selalu kalah dengan kebaikan. Lebih jauh, kehidupan nyata tidaklah sesederhana itu, manusia seringkali harus melalui tahapan yang sulit untuk menunjukkan kualitas dirinya. Dan jika tahapan itu terlalui dengan baik, balasannya tidak selalu dirasakan dalam kehidupan di dunia. Terkadang manusia harus mempertaruhkan kehidupannya untuk mencapai kebahagiaan dan hakikat hidup yang sebenarnya.

Telaah moral tersebut diharapkan dapat menghidupkan perasaan mahasiswa akan kepekaan mereka terhadap penderitaan dan penghargaan atas kejujuran dan pengampunan. Dengan ikut bersimpati dan berempati pada suatu karya sastra, maka sastra bukanlah sesuatu yang hanya ditelaah secara kaku dari unsur-unsur struktur pembangunnya secara terpisah. Sastra merupakan suatu penuturan kehidupan yang ditulis dengan makna didalamnya.

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. A.                Simpulan

Penanaman moral dan budi pekerti dalam pengajaran akan lebih berhasil apabila diberikan kepada anak didik kita melalui karya sastra (cerita pendek, novel, dongeng) tentunya dengan pemilihan karya sastra yang tepat dan sesuai dengan nilai moral akan kita tanamkan kepada anak didik. Mungkin kita masih ingat ketika kita memberikan nasehat kepada orang lain kita sering dianggap menggurui orang tersebut. Namun tidak demikian dengan sastra, pemberian cerita yang tepat kepada anak didik akan mampu menamkan nilai-nilai moral dan pekerti yang lebih mendalam serta mampu mingkatkan kempuan kognitif untuk lebih kritis menelaah suatu permasalahan.

 

  1. B.                 Saran

Berdasarkan simpulan diatas, penulis menyampaikan saran sebagai berikut.

1)      Dalam penanaman moral hendaknya para pengajar selain menggunakan pendidikan agama juga melalui pendekatan penagajaran sastra.

2)      Pendekatan moral melalui sastra hendaknya dilakukan sejak pendidikan dasar hingga akhir dengan metode yang benar.

3)      Pengajaran sastra lebih ditingkatkan karena selain menambah pengetahuan tentang bahasa, budaya, juga dapat berdampak positif pada pengembangan kartakter bangsa.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s